Menjadi Berani
Kita
sedang berada di zaman yang katanya tiap orang berhak memiliki jalan hidup
masing-masing, jauh panggang daripada api secara realita yang kutemui justru
jauh berbeda. Kita hanyalah kumpulan orang-orang yang sedang berlari di jalan
yang sama. Hampir tiap kita meletakkan tujuannya sama saja, sebatas ingin
berkeluarga dan menjadi kaya raya. Perlahan, jalan yang kita tempuh menjadi
sempit, penuh sesak, terlalu banyak mereka yang berlalu lalang di jalan yang
sama, semakin lama rasanya semakin sempit. Langkah masing-masing kita menjadi
semakin pelan. Mungkin ada beberapa dari kita yang berhasil melaluinya dengan lebih
cepat, tapi jangan lupakan banyak pula yang berjatuhan di jalan. Kita seakan
terlupa bahwa sang pencipta sebenarnya telah menyediakan jutaan bahkan milyaran
jalan yang bisa kita tempuh. Kita tidak perlu berebut, tiap kita punya jalannya
masing-masing. Hanya saja kita perlu keberanian yang lebih untuk melangkah di
jalan yang berbeda.
Sayangnya
menumbuhkan keberanian tidak semudah yang dikira. Banyak dari kita terlanjur
takut berlari di jalan yang berbeda, karena kekhawatiran dianggap aneh dan salah oleh manusia lainnya. Kita sibuk
mengikuti standar bahagia yang diciptakan oleh umat manusia, semacam cari aman
katanya. Mereka bilang: “Berkuliah adalah sebuah keharusan. Mendapatkan
pekerjaan segera setelah lulus itu namanya kewajiban. Menikah dan memiliki anak
adalah kunci kebahagiaan. Rumah dan mobil mewah adalah hal yang harus dimiliki.
Liburan ke luar negeri itu menyenangkan, rugi jika tak pernah melakukannya satu
kali.”
Bukan hanya itu, masih ada banyak tuntutan sosial lainnya
yang tanpa sadar telah tumbuh di masyarakat sehingga menjadikan mereka yang
berbeda dianggap melakukan kesalahan. Kita pun berlomba-lomba mencapai standar
yang dicipta. Kita menjadi berusaha sekuat tenaga memenuhi tuntutan sosial
yang ada, bahkan kadang jati diri sampai dilupa. Kita fokus untuk mengejar yang
katanya bahagia hanya demi bisa mengucap syukur, padahal syukurlah yang akan
membuat kita merasa bahagia. Mensyukuri hal-hal kecil yang sudah dipunya adalah
kunci kebahagiaan sesungguhnya, pada syukur itu pula ditambahkannya
nikmat
Andai berubah adalah hal yang pasti, aku ingin berubah menjadi lebih berani. Berani menjadi diri sendiri dan
berhenti membandingkan hidup dengan manusia lain yang tinggal di bumi. Berani
konsisten mensyukuri apa yang telah dimiliki. Berani melangkah di jalan yang
aku ingini. Berani untuk menyederhanakan
segala yang rumit. Berani mengejar apa yang telah menjadi mimpi. Berani mencoba
segala hal yang mau kupelajari. Berani menjadi berbeda. Berani menciptakan
standar bahagia sendiri. Berani abai terhadap semua tuntutan sosial yang tak
sepantasnya diikuti.
Iya, semua keberanian yang aku mau hanyalah tentang diriku.
Sebab aku tidak sedang berlomba dengan orang lain, melainkan aku hanya sedang
berlomba dengan diriku sendiri. Ketika aku di hari ini dapat menjadi lebih baik
daripada aku yang kemarin walau sedikit, maka artinya aku telah memenangkan
perlombaan ini. Begitu pula tentang esok hari, aku hanya perlu melampaui
hebatku di hari ini, tak perlu bersikeras mengejar standar orang lain.
Ingin rasanya aku beceramah panjang lebar tentang semua ini
pada diri sendiri. Aku ingin diriku paham sepenuhnya bahwa hidup hanya sekali,
jangan sampai dilalui tanpa dinikmati dengan sibuk memenuhi standar bahagia
yang orang lain cipta.
ditulis oleh: nfitriyn, seorang muslimah pemberani yang mengabdikan ikhtiarnya pada obor inspirasi kebaikan borneo

Komentar
Posting Komentar